Minggu, 21 Januari 2024

KERJAKAN SEKARANG ATAU NANTI?

    KERJAKAN SEKARANG ATAU NANTI


mengapa menunda pekerjaan?

* ah nanti saja,saya nonton televisi dulu. acaranya bagus

* sebetar lagi, setelah itu baru saya kerjakan.

* istirahat dulu, setelah itu baru saya kerjakan.

* hari ini saya terlalu lelah. besok saja saya selesikan.

* pekerjaan ini terlalu besar . saya bingung harus mulai dari mana.

* saya tidak punya cukup waktu unutuk mengerjakannya sekarang.

* lima menit lagilah, saya sedang membaca artikel yang menarik.

* sekarang saya sedang tidak "mood" untuk menyelesaikan pekerjaan.

  Apakah Anda sering menggunakan satu atau beberapa alasan di atas? Alasan-alasan ini sering digunakan orang untuk menunda pekerjaan. Alasan-alasan tersebut bisa dikelompokkan dalam lima bagian.


Salah perkiraan. Sinta mengira bahwa ia bisa menyelesaikan persiapan pelajaran hanya dalam waktu dua jam. Ternyata, banyak sekali persiapan yang perlu dilakukan sebelum kegiatan intinya dilakukan: membaca buku teks, membuat outline hal-hal yang penting untuk dibicarakan, mencari contoh-contoh dan ilustrasi untuk menunjang penjelasan, dan membuat presentasi powerpoint. Sinta mengira bahwa ia bisa tidur dulu selama setengah jam sebelum meneruskan pekerjaan. Ternyata, karena ia memulai pekerjaan sudah lewat jam 10 malam, dan ia memutuskan untuk "istirahat" sebentar pada jam 12 malam (jam tidur Sinta), tidak heran jika ia "kebablasan" sampai keesokan harinya.


Menunda pekerjaan kelihatannya sepele, tapi seperti pasir di dalam sepatu, kebiasaan buruk ini bisa menimbulkan rasa sakit ataupun luka di kehidupan sosial, karier ataupun bisnis Anda. Jadi, setiap kali Anda tergoda untuk menunda pekerjaan, ingat-ingat kembali strategi-strategi ini (jika perlu ambil artikel ini dan baca kembali strategi-strategi yang dibahas), untuk terus menyelesaikan pekerjaan yang sedang Anda tekuni. selamat mencoba.n

                                                                    5 ELANG 


https://youtu.be/vVQ3633QMzI?si=71ctxq8QD-yXKqQh

ima ELlang bercerita tentang petualangan para anggota pramuka. Film Indonesia bergenre drama petualangan ini menceritakan kisah Baron dan kawan-kawannya. Cerita film ini dimulai ketika Baron dan orangtuanya harus pindah dari Jakarta menuju Balikpapan. Perpindahan tidak selalu menyenangkan, setidaknya untuk Baron

                                                        NEGRI 5 MENARA


https://youtu.be/5MoMPOGRW8k?si=YpWF_sf7CMXPu1VX

Film Negeri 5 Menara, Sabtu pagi (25/2), diputar perdana sebelum dirilis ke publik awal Maret mendatang. Film yang diangkat dari novel laris karya Ahmad Fuadi ini mengangkat tema tentang tekad, kerja keras dan persahabatan. Alif lahir di sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau. Ia tidak pernah menginjakkan kaki di luar tanah kelahirannya. Alif bercita-cita kelak melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu kampus terkenal di Pulau Jawa. Namun sang amak (ibu) ingin Alif masuk pesantren agar bisa bermanfaat seperti Bung Hatta dan Buya Hamka. Dengan setengah hati, Alif menjalani keputusan orang tuanya dan bersekolah di Pondok Madani sebuah pesantren di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur. Kedatangannya di Pondok Madani yang terkesan kampungan dengan berbagai peraturan yang ketat semakin meremukkan semangat Alif. Namun seiring berjalannya waktu, ia pun mulai bersahabat dengan teman-teman dari berbagai daerah. Semangat anak-anak muda ini untuk belajar dan bersungguh-sungguh, terinspirasi oleh perkataan Ustad Salman, salah seorang guru di pondok pesantren itu. "Man Jadda Wa Jada..Man Jadda Wa Jada" (Barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil). Mantra inilah yang menambah tekad dan kesungguhan meraih cita-cita dan membuat mereka sukses dalam kehidupannya masing-masing. Film ini diangkat dari novel laris berjudul sama yang ditulis oleh Ahmad Fuadi, mantan wartawan, dan peraih sejumlah beasiswa Internasional. “Novel dan film ini sebetulnya sebagian besar diinspirasi dari cerita saya,” ujar Ahmad Fuadi. Tampak hadir berbagai kalangan dalam pemutaran perdana film ini, mulai dari aktor dan aktris pendukung, kalangan dunia hiburan dan sejumlah tokoh masyarakat. Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, mengatakan setiap orang yang menjalani proses pendidikan dalam hidupnya pasti juga akan mengalami berbagai tantangan seperti yang digambarkan dalam film ini. “Film ini menurut Saya powerful mengirimkan pesan bahwa belajar dan pendidikan itu adalah kunci untuk bisa mencapai puncak menara-menara impian. Melihat film ini mungkin seperti menengok pada kaca cermin sejarah perjalanan hidup,” kata Anies Baswedan. Sementara, dari kalangan perfilman tampak Produser Film Laskar Pelangi, Putut Widjanarko, film inspiratif bertema pendidikan yang sebelumnya juga laris di pasaran. Ia menyatakan keyakinannya kalau film-film bertema pendidikan yang dikemas secara menarik mampu memberikan pilihan dan warna lain dalam dunia perfilman Indonesia. “Saya kira film Negeri 5 Menara ini, sangat berhasil menampilkan kehidupan pesantren dan juga menggambarkan kekuatan cita-cita. Saya kira film ini juga akan mampu menginspirasi banyak orang untuk berani bermimpi dan menyatakan bahwa barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” demikian komentar Putut Widjanarko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KERJAKAN SEKARANG ATAU NANTI?

    KERJAKAN SEKARANG ATAU NANTI mengapa menunda pekerjaan? * ah nanti saja,saya nonton televisi dulu. acaranya bagus * sebetar lagi, setela...